Tim Kuratorial AIM

Tim kuratorial AIM akan secara bersama-sama mengkurasi pameran online yang akan diadakan pada Mei-Juni 2022 dan terlibat dalam Pelatihan Signifikansi dan Interpretasi pada tahun 2021 sebagai bagian dari AIM Project.

HARIYADI,Ardi.PNG

Ardi Hariyadi (Ardi)

Museum Tekstil, Jakarta

Ardi adalah seorang Sarjana Seni jurusan Kriya Tekstil, ISI Yogyakarta. Sejak tahun 2016, ia bekerja di bawah Museum Tekstil, Jakarta dan telah berkelana ke Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan, China, dan Uni Emirat Arab untuk mengenalkan Museum Tekstil dan belajar mengenai pengelolaan museum. Museum Tekstil Jakarta bisa dibilang memiliki koleksi yang berhubungan dengan tekstil yang terlengkap di Indonesia, yang meliputi kain tradisional dari semua provinsi, alat pembuatan kain, busana adat, busana modern, hingga koleksi hidup seperti tanaman penghasil warna dan serat alami. Saat ini, Ardi memiliki keinginan untuk melakukan kajian terhadap koleksi busana, yang menurutnya dapat digunakan sebagai alternatif untuk menciptakan pameran yang menarik dan berbeda. 

PERDANA,Andini.JPG

Andini Perdana (Andini)

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar

Andini adalah lulusan Magister Humaniora Pengkhususan Ilmu Permuseuman, Universitas Indonesia. Andini bekerja  Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinisi Sulawesi Selatan sebagai Pamong Budaya Ahli Muda sejak tahun 2018. Tahun 2009, Andini sempat bekerja di Direktorat Museum, Depbudpar yang menangani kebijakan pengelolaan museum-museum di Indonesia, lalu pada tahun 2012, berpindah ke Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman dimana Andini menangani pembinaan sumberdaya manusia di bidang Cagar Budaya dan museum.

PURNAMASARI,Anggi.JPG

Anggi Purnamasari (Anggi)

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar

Anggi adalah Pamong Budaya Ahli Pertama di Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan. Anggi bekerja dalam bidang pelestarian cagar budaya, dibidang publikasi cagar budaya. Salah satu tugasnya adalah melaksanakan pameran cagar budaya. Pameran yang sering dilaksanakan adalah pameran temporer di kabupaten-kabupaten yang berada di wilayah kerjanya yaitu, Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi barat dan Sulawesi Tenggara. Pameran yang dilaksanakan membahas koleksi cagar budaya 80% mengenai kabupaten dimana pameran dilaksanakan, dan 20% sisanya mengenai cagar budaya di kabupaten lainnya.

IMG-4674.PNG

Anastasia Dwirahmi (Ami)

Fasilitator | Southeast Asia Museum Services (SEAMS)

Ami memegang gelar Master dalam World Heritage Studies dari Brandenburg University of Technology, Jerman. Selama 5 tahun terakhir ia telah terlibat dalam sejumlah proyek yang berkaitan dengan warisan perkotaan dan nominasi Warisan Dunia. Selain itu, Ami memiliki pengalaman yang luas dalam mengkurasi pameran museum termasuk yang terbaru pada arsitek Indische Thomas Karsten. Ami adalah pendiri podcast Seraya, sebuah forum untuk membahas masalah museum dan warisan budaya di Indonesia.

IMG-4670.PNG

Andrew Henderson (Andrew)

Fasilitator | Southeast Asia Museum Services (SEAMS)

Andrew memiliki pengalaman lebih dari 8 tahun bekerja di museum, arsip dan proyek-proyek warisan di Asia-Pasifik, dimana ia telah bekerja untuk UNESCO di kantor Jakarta, Bangkok dan Pnom Penh. Andrew memegang gelar Magister dalam Cultural Heritage from the Cultural Heritage Centre for Asia and the Pacific (Warisan Budaya dari Pusat Warisan Budaya untuk Asia dan Pasifik) dari Universitas Deakin. Andrew saat ini adalah Sekretaris Jenderal untuk Komite Memori Dunia (Memory of the World (MoW)) UNESCO untuk Asia-Pasifik dan co-founder dari Southeast Asia Museum Services (SEAMS).

KRISTIYANTA,Wisnu.PNG

Agustinus Wisnu Kristiyanto (Wisnu)

Museum Sonobudoyo, Yogyakarta

Wisnu adalah staff di Seksie Koleksi, Konservasi dan Dokumentasi sejak tahun 2014 di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Wisnu memegang gelar S2 Magister Arkeologi (Museologi) dar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Wisnu terlibat beberapa project pameran mulai dari pameran lokal dan pameran temporer yang rutin diselengarakan setiap tahun, dan pameran nasional, contohnya pameran alat musik tradisional nusantara dengan tema 'Tetabuhan Nusaraya Sounding the Diverse Collectivities' (2017). Baginya, hal yang paling menarik dalam menyiapkan sebuah pameran adalah saat berproses itu sendiri- bagaimana sebuah ide bisa diwujudkan ke dalam tata pamer dan dapat disampaikan ke pada pengunjung pameran. Pada tahun 2016, Wisnu mengikuti Program yang diadakan oleh Deakin University dan the Australian Award Fellowship (AAF) berjudul 'Capacity building in the Indonesian Museum Sector', yang mendorongnya untuk mengambil ilmu museologi untuk studi magisternya.

KIRANA,Ayu_ed.PNG

Ayu Dipta Kirana (Karin)

Museum Sonobudoyo, Yogyakarta

Karin memegang gelar Master Antropologi dari Universitas Gadjah Mada. Karin adalah Manajer Koleksi Arkeologika dan Etnografika di Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Salah satu project museum yang Karin kerjakan adalah pameran mengenai perkembangan sejarah industri perak yang ada di Yogyakarta. Pameran ini cukup spesial buatnya karena  diselenggarakan di tengah wabah pandemi Covid-19. Dengan banyak pertimbangan, pameran temporer ini dibuat dengan mengurangi jumlah koleksi supaya ruang tidak terlalu penuh dan penerapan protokol kesehatan yang ketat bagi pengunjung. Ini pertama kalinya Karin membuat pameran dengan adaptasi kebiasaan baru. Dengan mengikuti AIM Project Karin berharap  dapat berkontribusi pandangan segar terhadap kajian riset koleksi dan pengembangan kuratorial untuk kedepannya.

Christine Porr.PNG

Christine Porr (Christine)

Western Australian Museum (WAM), Australia

Dr Christine Porr adalah Asisten Kurator di Museum Australia Barat. Ia menerima gelar Master of Arts dalam Sejarah dan Sejarah Seni dari Martin-Luther-Universität Halle-Wittenberg pada 2005 dan PhD dari University of Western Australia pada 2018. PhD-nya berfokus pada koleksi sampul buku Jerman abad ke-16 dari Perpustakaan Bersejarah Quedlinburg, Jerman dan citra Protestan mereka. Selama masa studi dan pasca-studinya, Christine mengerjakan beberapa pameran internasional, termasuk ‘The forged Sky. The Sky disc of Nebra‘, 'Saladin and the Crusaders‘, 'The new Style. Ernst Ludwig Kirchner’s late work‘ and ‘The Last Gentlemen of War’. Christine pindah ke Perth pada 2008 dan menjadi Honorary Research Fellow di School of Humanities pada 2009 dan 2010. Ia adalah presiden Goethe Society WA dari tahun 2011 hingga 2013. Ia pertama kali bekerja untuk WAM pada tahun 2014.

IMG-4677.PNG

Corioli Souter (Corioli)

Fasilitator | Western Australian Museum (WAM), Australia

Corioli Souter adalah Kurator Arkeologi Maritim di Western Australian Museum (WAM). Corioli telah mengambil bagian dalam lebih dari 40 proyek penelitian arkeologi di Australia dan luar negeri dan telah memimpin dan berpartisipasi dalam survei arkeologi, penilaian warisan, penggalian, dan upaya penelitian interdisipliner yang telah menghasilkan berbagai laporan, publikasi, pameran, dan film dokumenter. Selama 10 tahun terakhir, Corioli telah mengembangkan proyek pameran untuk WAM termasuk 'Immerse: Exploring the Deep' (2011), 'Lustre: Pearling and Australia' (2015) dan 'Travellers and Traders in the Indian Ocean World' (2016), bekerjasama dengan British Museum. Corioli saat ini adalah Kandidat PhD di Universitas Deakin yang sedang mengerjakan penelitian berjudul 'Collecting the Sea: Making and exhibiting maritime collections from the Indian Ocean in Western Australia’.

PERMATASARI,Dian.PNG

Dian Permatasari (Dian)

Museum Sejarah Jakarta, Jakarta

Dian adalah lulusan S1 Arkeologi Universitas Indonesia yang memiliki ketertarikan pada benda-benda peninggalan dari masa lalu. Sejak lulus pada tahun 2016, ia terlah banyak berkecimpung dalam dunia pelestarian Cagar Budaya khususnya di DKI Jakarta. Tahun ini, Dian mulai lebih serius belajar banyak hal mengenai museum, pengelolaan koleksi, program publikasi, promosi, dan lain-lain. Saat ini ia bekerja di Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta. Unit ini mengelola empat museumbertema sejarah di Jakarta yaitu Museum Sejarah Jakarta, Museum Joang'45, Museum M.H. Thamrin, dan Museum Taman Prasasti. Keempat museum ini memiliki beragam koleksi mulai dari masa prasejarah hingga kemerdekaan RI. 

IMG-4675.PNG

Dyah Pandam Mitayani (Mita)

Fasilitator | Southeast Asia Museum Services (SEAMS)

Mita memegang gelar Magister dalam Education in Arts and Cultural Settings dari King’s College London, Inggris. Mita adalah seniman dan desainer grafis dan telah memiliki pengalaman luas merancang pameran museum dan mengembangkan program pendidikan untuk organisasi budaya. Salah satu proyek Mita dalam permuseuman adalah di Museum Tamansiswa di mana ia membantu mendesain label dan panel dan merancang sistem label interaktif dan program untuk anak-anak.

HADIANTO,Fajar.PNG

Fajar Ichsan Hadianto (Fajar)

Museum Nasional Indonesia, Jakarta

Fajar adalah Asisten Kurator di Museum Nasional Indonesia. Dengan latar belakang sarjana Antropologi Sosial dari Universitas Padjadjaran Bandung, Fajar mengaplikasikan ilmunya di bidang sosial budaya ke bidang kuratorial, di mana ia mencoba menerjemahkan makna yang terkandung dalam sebuah koleksi agar lebih mudah dipahami masyarakat. Selama kurang lebih dua tahun berkiprah di bidang kuratorial di Museum Nasional Indonesia, Fajar telah terlibat dalam mempersiapkan sejumlah pameran dan kegiatan konservasi, seperti Konservasi Patung Perunggu Gajah (2021), Pameran Kembali ke Tanah Merdeka (2020) dan Pameran Alat Musik Tradisional Indonesia (2020).

PUTRA,Galih.JPG

Galih Hutama Putra (Galih)

Museum Sejarah Jakarta, Jakarta

Galih saat ini adalah Kepala Unit Pelaksana Sarana dan Prasarana di Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta, dimana ia terlibat dalam pembuatan pameran, promosi kegiatan museum dan juga perawatan koleksi. Galih adalah lulusan Jurusan Ilmu Sejarah dari Universitas Indonesia. Pada tahun 2016, Galih mengikuti program 'Capacity building in the Indonesian Museum Sector' selama 2 minggu di Universitas Deakin Australia, dan ketika kembali ke Indonesia, Galih ditugaskan sebagai Kepala Pelayanan yang lebih erat berhubungan dengan pelayanan para pengunjung dan program publik di museum.

HAFNIDAR_ed.PNG

Hafnidar (Hafni)

Museum Tsunami Aceh, Aceh

Hafni adalah kepala kurator di Museum Tsunami Aceh. Ia memiliki berbagai pengalaman di dalam dan luar negeri antara lain mewakili kurator Indonesia di International Training Program British Museum dan Australia Awards Fellowship serta menjadi pembicara untuk topik museum bencana di ASEAN dan UNDRR. Pada saat program AIM ini berlangsung, Hafni tengah sibuk melakukan kajian oral history para penyintas tsunami, menyiapkan aplikasi digital pada ruang pamer, revitalisasi gedung museum, merancang program museum di masa pandemi, dan melakukan kajian Museum Tsunami menuju BLUD (Badan Usaha Layanan Daerah).

PERMANA,Hendra.PNG

Hendra Permana (Bada)

Museum Multatuli, Banten

Bada adalah lulusan jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta di tahun 2017. Sejak 2018, ia bekerja sebagai kurator di Museum Multatuli- sebuah museum yang mengusung tema anti-kolonialsime tersebut pada saat itu baru dibuka. Bada terlibat dalam menyiapkan sebuah festival bernama Festival Seni Multatulis (FSM) yang menampilkan rangkaian acara untuk mengenalkan pada publik akan sosok Multatuli dan museum itu sendiri. Pada festival ini, Bada secara khusus merancang sebuah pameran mengenai kopi bekerja sama dengan Erasmus Huis. Saat ini Bada juga tercatat anggota aktif dari Laboratorium Banten Girang, sebuah komunitas yang bertujuan untuk mempopulerkan arti penting Situs Banten Girang, yang telah ada sebelum Kesultanan Banten. Ia juga sedang merintis sebuah perpustakaan umum bernama Humaliterasi (www.humaliterasi.id), yang memiliki cita-cita mendokumentasikan tradisi lisan, budaya, dan sejarah di Kabupaten Lebak.

MUSLIKHAH,Isnani.JPG

Isnani Umi Muslikhah (Isna)

Museum Sonobudoyo, Yogyakarta

Isna bekerja sebagai staf museum di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Isna memegang gelar Sarjana Teknik Arsitektur dan saat ini sedang melanjutkan studi Magister Ilmu Sosial dan Politik dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada tahun 2016, Isna mengikuti Program berjudul 'Capacity Building in the Indonesian Museum Sector’ yang diselenggarakan oleh Deakin University dan Australia Award Fellowship (AAF). Selama enam tahun bekerja di Museum Sonobudoyo, Isna telah menyusun perencanaan program dan anggaran museum serta merancang beberapa pameran temporer. Proyek terakhir yang berkesan bagi Isna adalah pameran bertema anak-anak dengan tajuk 'Kembara Gembira' bulan Juni lalu, dimana Isna dan tim merancang tata pamer yang interaktif bagi pengunjung pameran.

Jessica Green.PNG

Jessica Green (Jess)

Western Australian Museum (WAM), Australia

Jess adalah Asisten Kurator di Departemen Warisan Maritim di Museum Australia Barat (WAM), yang berspesialisasi dalam arkeologi maritim. Dalam peran ini mereka berkontribusi pada pengelolaan koleksi bahan kapal karam Museum, dengan fokus khusus pada fotografi objek dan ilustrasi detail. Mereka memegang gelar Bachelor of Arts with Honours in Archaeology dari University of Western Australia, di mana tesis mereka berfokus pada konstruksi masa kanak-kanak di misi Aborigin abad ke-18 Ellensbrook, berdasarkan bahan arkeologi yang tersembunyi di bawah lantai Homestead.

Kylie Elston.PNG

Kylie Elston (Kylie)

Western Australian Museum (WAM), Australia

Kylie adalah kurator sejarah di Western Australian Museum di Perth, di mana perannya termasuk mengumpulkan, menilai, dan menafsirkan benda-benda penting bagi orang-orang dan tempat-tempat di Negara Bagian. Selama empat tahun terakhir, ia fokus mengembangkan konten untuk galeri Change WAM Boola Bardip. Kyle memegang gelar dalam sejarah Australia dari Murdoch University dan Graduate Diploma in Applied Heritage dari Curtin University. Sebelum bergabung dengan museum, ia bekerja sebagai jurnalis, penulis, dan editor konten situs web.

DEWI,Maulidha.jpg

Maulidha Sinta Dewi (Sinta)

Museum Nasional Indonesia, Jakarta

Sinta memiliki latar belakang studi di bidang kimia dan arkeologi/museologi dan bekerja di Museum Nasional sebagai Pamong Budaya Ahli Muda. Sebelumnya, Sinta pernah bekerja sebagai konservator dan educator. Ia memiliki berbagai pengalaman di bidang konservasi antara lain terlibat dalam kajian konservasi logam perunggu dan penyusunan buku konservasi tekstil. Pengalaman yang paling menarik baginya adalah terlibat dalam melakukan Kajian Kulit Kayu di Pulau Mentawai, Sumatra Barat. Selain melaksanakan kegiatan konservasi koleksi museum, Sinta juga terlibat dalam merancang Pameran Konservasi Perunggu. 

Monika Durrer.PNG

Monika Durrer (Monika)

Western Australian Museum (WAM), Australia

Monika bekerja sebagai Asisten Kurator untuk Departemen Sejarah Museum Australia Barat. Pada 2017, ia lulus dari The University of Western Australia dengan gelar PhD dalam Studi Jerman dan pada 2019, ia menyelesaikan kualifikasi pascasarjana dalam Studi Museum melalui Deakin University. Monika memiliki minat dalam sejarah lisan, studi migrasi, bahasa dan pendidikan. Menjelang pembukaan WAM Boola Bardip, Monika membuat konten pameran untuk galeri Reflections, yang berfokus pada sejarah dan identitas sosial Australia Barat. Ia saat ini terlibat dalam proyek pengumpulan kontemporer terkait dengan pandemi COVID-19.

KHOIRUNNISA,Nabila.JPG

Nabila Khoirunnisa (Nabila)

Museum Bahari Jakarta, Jakarta

Nabila lulus dari jurusan arkeologi pada tahun 2018 dan langsung bekerja di Museum Maritim Indonesia, Tanjung Priok sebagai staf koleksi dan konservasi sekaligus menjadi edukator ketika dibutuhkan. Saat ini ia bekerja di Museum Bahari, Jakarta, dengan tugas memonitor kondisi koleksi dan melakukan kerja sama dengan museum dan instansi lain. Nabila memiliki keinginan untuk mengenal lebih jauh mengenai koleksi museum di mana ia bekerja, agar koleksi tersebut dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas.

ESTUDIANTIN,Nusi.JPG

Nusi Lisabilla Estudiantin (Nusi)

Museum Nasional Indonesia, Jakarta

Sejak tahun 1999, Nusi bekerja di Museum Nasional Indonesia, dan pernah menempati posisi sebagai kurator, edukator dan desainer pameran. Sejak awal tahun 2021 Nusi bertugas di Pokja Produksi Program Publik, sambil tetap melanjutkan riset yang ia geluti sejak tahun 2005-  yaitu mengkaji peninggalan Jaap Kunst di Museum Nasional. Nusi juga tertarik dengan kajian sejarah kolonial, khususnya tentang repatriasi. Nusi adalah alumni program 'Capacity building in the Indonesian Museum Sector' dari Universitas Deakin, Australia. Nusi pernah terlibat di setidaknya 30 pameran, baik di dalam maupun di luar negeri. Salah satunya dan yang paling berkesan bagi Nusi adalah pada tahun 2020, dimana ia dan Peter Carey ditunjuk menjadi kurator pameran bertajuk 'Pamor Sang Pangeran'- berkesan karena menjadi tantangan tersendiri mengadakan pameran luring di tengah pandemi, dan antusiasme masyarakat yang begitu besar.

ARYENI,Nyimas_ed.PNG

Nyimas Ulfah Aryeni (Ulfah)

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang

Ulfah adalah Kepala Seksi Permuseuman dan Bangunan Bersejarah di Dinas Kebudayaan Kota Palembang sejak tahun 2017. Ulfah pernah mengikuti kegiatan International Fieldschool 2020 dengan tema 'Layers of Memories: Our Common History', sebuah kerjasama Rujak Center for Urban Studies dengan Kyoto University dan Kampung Akuarium,Jakarta Utara. Dari kegiatan tersebut, Ulfah beserta teman-teman di Disbud Kota mulai menggandeng komunitas-komunitas yang ada di Palembang khususnya komunitas cagar budaya dan komunitas adat dan berharap dengan adanya kegiatan bersama komunitas ke depan nanti akan ada museum untuk komunitas di Kota Palembang.

Patrick Morrison.JPG

Patrick Morrison (Patrick)

Western Australian Museum (WAM), Australia

Patrick Morrison adalah mahasiswa PhD dalam Arkeologi di University of Western Australia, yang bekerja untuk merekonstruksi respons manusia terhadap iklim masa lalu di Murujuga, di Barat Laut Australia Barat. Dalam beberapa tahun terakhir sebagai Asisten Kurator di Museum WA, ia mengerjakan konten untuk Museum WA Boola Bardip dan berbagai proyek Warisan Maritim. Ia sekarang bekerja dengan tim Warisan Maritim Museum WA untuk mengembangkan eBook tentang Situs Karam Kapal Batavia dan Kamp Korban. Patrick memiliki gelar Honours di bidang Arkeologi dari UWA yang berfokus pada lanskap dalam air di Murujuga dan memiliki keahlian dalam perekaman fotogrametri bawah air situs arkeologi.

PURWANTI,Pythagora.JPG

Pythagora Yuliana Purwanti (Pipit)

Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta

Pipit memegang gelar Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Gadjah Mada. Pipit memulai karir museumnya 7 tahun yang lalu sebagai pendidik museum di Museum For Vredeburg, Yogyakarta. Bagi Pipit, bekerja di museum menghadirkan banyak tantangan menarik contohnya bagaimana membawa penyajian koleksi di museum yang baik, bercerita dan berkomunikasi secara efektif kepada para pengunjung.

FADILA,Rucitra.PNG

Rucitra Deasy Fadila (Deasy)

Museum Bahari Jakarta, Jakarta

Deasy bekerja di Museum Bahari Jakarta dan memiliki latar belakang arkeologi. Deasy sempat bekerja di Sub Direktorat Registrasi Nasional dibawah Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman mana ia bekerja bersama tim pengolah data Cagar Budaya Nasional. Dunia museum adalah hal baru bagi Deasy, tetapi bukan sesuatu yang asing. Salah satu hal yang membuatnya terkesan adalah pengalaman merancang sebuah pameran dari awal hingga bisa dibuka untuk pengunjung. Salah satu proyek yang pernah ia lakukan bersama rekan-rekannya adalah membuat ruang belajar untuk mengenang tragedi kebakaran yang terjadi di museum pada tahun 2018.

A,Scholastica.PNG

Scholastica Rania A (Rania)

Museum Rumah Huang (Oei), Lasem

Rania memiliki latar belakang pendidikan di bidang manajemen. Sejak tahun 2018, ia aktif sebagai volunteer dan PR di berbagai proyek mahasiswa. Setelah lulus kuliah, Rania membantu sebagai asisten kurator di Museum Roemah Oei di Lasem. Koleksi favorit Rania adalah kebaya encim berenda dengan kancing perak. Di tiap kancing terdapat foto dari anggota keluarga dari empunya kebaya. Kebaya encim selain hasil akulturasi banyak budaya, juga menjadi salah satu identitas dari perempuan Peranakan di Indonesia. Walau ada banyak kebaya dengan berbagai warna dan motif bordir, kebaya ini mencuri perhatian karena kesederhanaan dan cerminan dari peran seorang Ibu di dalam keluarga.

ROHANI,Siti_ed.jpg

Siti Rohani (Hani)

Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, Banten

Hani adalah Kurator Koleksi Museum di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama (MSKBL). Sejak tahun 2014, Hani aktif mengkaji koleksi-koleksi museum, dan baru-baru ini Hani juga aktif membuat kolom postingan tentang koleksi MSKBL di Instagram @museumbantenlama. Hani tertarik untuk mengikuti AIM Project guna memperluas pengetahuan terhadap cara menilai objek, yang merupakan salah satu unsur penting bagi keberadaan museum. Oleh karenanya penyajian koleksi perlu pertimbangan nilai penting yang dikandungnya dan bagaimana menafsirkan koleksinya. Hasil dari penafsiran tersebut tentu akan berpengaruh terhadap penyajian koleksi/ benda yang nanti akan mudah dipahami pengunjung.

IMG-4671.PNG

Steven Cooke (Steve)

Fasilitator | Deakin University, Australia

Steve Cooke adalah Associate Professor of Cultural Heritage and Museum Studies di Deakin University. Sebelum bergabung dengan Deakin, Steve bekerja selama 10 tahun di sektor warisan budaya di Melbourne – termasuk sebagai pemimpin senior di beberapa tempat warisan paling penting di Australia seperti Museum Maritim Melbourne – rumah Polly Woodside, dan Shrine of Remembrance. Beliau menjalankan program Australia Awards Fellowship pada tahun 2015-16 untuk program ‘Capacity Building in the Indonesian Museum Sector’, dimana Steve merasa beruntung sekali untuk dapat bekerja secara langsung dengan rekan-rekan Indonesia dan mengunjungi beberapa museum mereka. Minat pengajaran dan penelitian Steve termasuk memikirkan cara baru untuk menceritakan sejarah yang sulit di museum.

NUGRAHA,Theo_ed.PNG

Theo Nugraha (Theo)

Museum Kota Samarinda, Kalimantan Timur

Theo adalah kurator Museum Kota Samarinda. Lahir pada tahun 1992 di Samarinda, Theo juga adalah seorang seniman, khususnya dalam teknik audio dan musik. Theo merupakan bagian dari dunia suara eksperimental Indonesia sejak 2013. Diskografinya berisi hampir 200 rilis. Theo adalah salah satu pendiri HEX Foundation dan salah satu penggagas Extended.Asia, sebuah platform online untuk seniman suara dan visual. Selain itu, Theo merupakan bagian dari muarasuara.id yang merupakan platform yang berfokus pada eksperimen suara. Theo juga aktif dalam grup eksperimen visual dengan Milisifilem Collective, performance art di 69 Performance Club, dan merupakan editor EXT.ASI.PLAY (play.extended.asia).

SAPUTRI,Winda.PNG

Winda Saputri (Winda)

Museum Mulawarman, Kalimantan Timur

Winda adalah Tenaga Teknis Konservator di Museum Mulawarman, Kalimantan Timur. Winda menekuni bidang arkeologi sejak tahun 2012 karena tertarik dengan dongeng dan legenda dari berbagai daerah. Setelah lulus, ia bekerja sebagai asisten kurator di salah satu museum di Yogyakarta pada tahun 2017 dan selanjutnya bergabung dengan Museum Negeri Mulawarman sebagai staf teknis konservasi hingga sekarang. Tugasnya sehari-hari adalah menjaga dan merawat koleksi dan gudang. Selain itu, Winda juga terlibat dalam berbagai kegiatan penelitian dan persiapan pameran. Salah satu penelitian yang ia lakukan adalah tentang Peninggalan Kesultanan Paser dan pameran temporer Dayak: The Native People of Borneo

TAHIR,Zainab.JPG

Zainab Tahir (Zainab)

Marine Heritage Gallery, Jakarta

Zainab adalah lulusan dari Universitas Hasanuddin di Sulawesi Selatan, dalam jurusan Arkeologi dan juga dari Sekolah Ilmu Bumi dan Lingkungan James Cook University, Australia, dalam jurusan Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut. Zainab telah bekerja sebagai Analis Warisan Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2005. Salah satu tanggung jawabnya adalah mengelola Marine Heritage Gallery yang dibuka pada Maret 2017. Galeri ini secara spesifik memamerkan artefak yang diangkat dari perairan Indonesia yang secara umum berupa keramik Cina dari abad 9 - 13, gerabah halus, botol kaca dari Timur Tengah, dan beberapa artefak lain berbahan logam. Kegiatan Zainab antara lain adalah mendesain program galeri agar lebih dikenal masyarakat, salah satunya melalui kegiatan learning session reguler. Ia merasa masih banyak hal yang harus dipelajari agar dapat menciptakan sebuah kegiatan edukasi yang interaktif dan memikat. Salah satu rencana yang ia rencanakan setelah pandemi usai adalah melakukan museum roadshow ke sekolah-sekolah.